Antara Seni dan Sensasi

Kawasaki ZX-6 636 mewakili Jepang dan MV Agusta F3 675 asal Italia. Keduanya, siap bertarung buat penuhi keinginan sobat yang ingin pakai moge kelas supersport alias 600 cc buat aktivitas harian. Jadi, tak cuma soal balap! Sebab, moge ini masih nyaman buat diajak meliuk-liuk di kemacetan.

Macam Yakuza dan Mafia, keduanya punya karakter berbeda. Bukannya untuk menjadi siapa yang terhebat, tetapi semua tentang cita rasa. Bagaimana sensasi yang diberikan dua motor berbeda negara ini. Semua, mengenai seni dan sensasi!

Apalagi, F3 675 jadi satu-satunya supersport yang berasal dari Italia. Selain MV Agusta, tak ada pabrikan motor yang bermain di kelas ini. Baik itu Ducati, Aprilia pun tak melirik kelas supersport.


F3 675 yang masuk melalui Moto8 sebagai agen resmi MV Agusta di Indonesia ini, punya keunikan tersendiri. Yaitu, putaran kruk as yang tak seperti mesin biasanya. Jika putaran krus as lazimnya searah putaran roda, maka motor berkapasitas 675 cc, 3 silinder ini punya arah sebaliknya.

Layaknya pacuan MotoGP yang punya konsep serupa, tujuannya buat mendapatkan titik balance seideal mungkin. Jadi, efek roda belakang terkunci ketika deselerasi pun terhindarkan.

Dengan tenaga yang sentuh 122 dk, sensasi riding yang diberikan cenderung di putaran tinggi. Itu tak terlepas dari karakter stroke pendek yang diusung. Makanya selepas dari 7.000 rpm ke atas, tenaga F3 675 pun meluncur deras.

Kondisi ini, tak jauh beda dengan ZX-6 636 yang bermain dengan konfigurasi 4 silinder segaris. Meski mengusung kapasitas silinder 636 cc, tetapi power 130 dk/13.500 rpm yang diusung pacuan seharga 225 juta ini siap dimuntahkan kapan saja. Bahkan dengan tambahan 36 cc ketimbang ZX-6 (600 cc), membuatnya lebih kompetitif.

ZX-6 636 yang masuk melalui PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI), juga dirancang buat supersport perkotaan. Jadi, soal handling sport berbobot kosong 192 kg ini juga tak jauh beda dengan F3 675. Pergerakan setang dan tubuh, dibuat mudah mengikuti arah pacuan. Hanya saja, memang pergerakan setang 675 sedikit lebih ringan ketimbang 636. Mungkin karena posisi setang 636 sedikit lebih merunduk ketimbang 675.


Bicara soal fitur, dua pacuan ini mengusung teknologi terkini. Misalnya, dari adanya fitur kontrol traksi. Keduanya, memberikan pilihan ke pengendara buat menyesuaikan kondisi lintasan. Begitu juga untuk pilihan mode power. Bisa diseting jika tidak ingin tenaga muntah sejadinya kala berakselerasi. Ibarat robot, keduanya canggih! Tetapi, tetap butuh peran pengendali alias human buat menyesuaikan kondisi sekitar.

Tentang desain bodi, tentunya kembali soal selera. F3 675 yang asal Italy, memiliki bentuk yang cenderung dipenuhi lengkungan. Meskipun, desainnya tetap mengutamakan unsur sporty lho.

Ini, berbeda dengan ZX-6-636 yang lebih radikal dengan line sharp. Garis-garis yang membentuk bodi, seakan mempertegas sisi pacuan sarat akselerasi. Jadi, balik lagi ke sobat bagaimana melihat keindahan seni dari dua pacuan berbeda asal-usul ini. Tentu, untuk selanjutnya dinikmati dong. (www.motorplus-online.com)

Sumber :http://www.motorplus-online.com/read/d6BTa5S3eI_aiC8WhDDO3_079MjX5XuKgJGRzGoqLcg/4/0/Antara-Seni-dan-Sensasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s